Sep 6, 2012

Rumah Di Seribu Ombak


Bagi yang belum menonton ataupun mau menonton film ini, silakan tonton dulu film-nya sebelum membaca postingan ini. Karena mungkin anda akan tidak mengerti atau kecewa karena sudah tahu endingnya duluan.


Saya tahu awalnya kira - kira tahun lalu, ketika di twitter ramai diperbincangkan tentang novel dari film ini. Novel karya Erwin Arnada (mantan "pentolan" Playboy Magz Indonesia), yang konon di buat saat di tahan di LP Cipinang karena kasus majalah Playboy tersebut. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dengan novel/film ini.

Pertama, Film ini mengambil latar belakang di Bali, khususnya bagian Bali Utara (Singaraja), yang biasanya jarang diangkat menjadi film ataupun FTV yang tak jelas di TV. Kedua, Tema pluralisme yang dipakai pada film ini, saya jadi penasaran bagaimana sudut pandang dari seorang Erwin Arnada. Ketiga, adanya seorang JRX SID yang mungkin untuk pertama kali berakting di Film layar lebar. Keempat, Konon ini adalah film lokal pertama sejak 6 bulan yang lalu yang di putar di Bioskop Mall Bali Galleria.

Berbekal ekspektasi yang tinggi, beberapa hari yang lalu akhirnya saya nonton juga, walaupun telat sekitar 5 menit. Film ini bercerita tentang kisah pertemanan dua anak yang berbeda agama. Samihi, bocah muslim yang takut air semenjak kakaknya meninggal tenggelam dan Wayan Manik (Yanik) bocah Hindu, miskin yang ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Saya datang ketika adegan samihi dan yanik sedang dipantai, ketika yanik memaksa syahimin untuk mendekat ke air. Pada awalnya alur film ini terasa mengalir, namun entah mengapa di akhir film ini, dimulai ketika adanya peristiwa bom Bali alur cerita terasa terlalu cepat, saya mengira konflik dari film ini adalah di bagian Bom Bali tersebut, tetapi entah mengapa bagian tersebut tidak mendapat ulasan yang lebih banyak.

Dan bagian dimana Samihi sudah sukses dan pergi ke Australia juga begitu tergesa - gesa. Dan parahnya dibagian ending, mungkin agak aneh endingnya mengambang seperti itu. Mungkin Bang Erwin ingin menampilkan sebuah ironi, tetapi entah mengapa semua penonton tertawa ketika adegan bunuh diri tersebut. Bahkan ketika bagian credit sudah diputar, para penonton masih duduk, mengira masih ada lanjutan dari film ini.

Diluar beberapa kejanggalan yang saya sebutkan di atas, film ini patut diacungi jempol. Pertama dari latar belakang filmnya, tentang bagian Bali Utara dan Pluralisme yang jarang diangkat ke layar lebar. Kemudian pemakaian Bahasa Bali yang membuat film terasa semakin nyata dan lucu, namun mungkin bisa mengecewakan bagi orang - orang yang tak bisa berbahasa bali. Adegan - adegan lucunya pun memang terasa tak dipaksakan. Kemudian pengambilan gambar yang keren membuat film ini menjadi salah satu film lokal yang patut di tonton. Nilainya mungkin 3,5 dari maksimal 5 bintang :)

BTW, saya sudah punya novel film ini dari setahun yang lalu, tapi sampai sekarang belum saya baca, mungkin bagi yang sudah baca, bagusan mana novel ato film nya ?

0 comments:

Post a Comment